Rabu, 31 Agustus 2016

August full of Self Development




August be the hectic month for me to develop my self. In this month I choose be a Volunteer in Project Child, Internship in Pasienia, Apply to PT. Paragon Innovation and technology. Why I do this?
In the final of my study, I begin feeling confuse. Do you for what? For my CV (Curriculum Vitae). I feel so much sad because I don’t have more adventure in Jogjakarta. I don’t have much award, leadership experience, bussiness and other experience as volunteer. But I thanks God because I have awardness now.
For readers, I just wanna say that we must have many experience and find our passion. Don’t satisfy just sit and listen to what the lecture said. Read many book, do many action, and find our vision as a passion. Many people say to me that after they work, it’s no time for self development. It’s become our work as the self development that same as carrier level.
This is just a simple articel but this is my experience to make a rainbow in my life.

Jumat, 18 Maret 2016

OBEY GOD'S COMMAND



Obey God's commands

In everything that he undertook in the service of God's temple and in obedience to the law and the commands, he sought his God and worked wholeheartedly. And so he prospered.

2 Chronicles 31:21
2 tawarikh 31:21
 
Robert Ginnett, seorang peneliti di Pusat Kepemimpinan Kreatif di Colorado Springs, mendapati bahwa nilai-nilai yang kita klaim sebagai milik kita ternyata tidak begitu sesuai dengan tindakan nyata yang mungkin kita pikirkan.

Seorang eksekutif bisnis yang mengatakan bahwa putrinya yang berusia lima tahun adalah bagian paling berharga dari hidupnya, menyadari bahwa biasanya ia berangkat kerja sebelum putrinya bangun dan sering pulang ke rumah setelah putrinya itu tidur di malam hari. Maka pada hari Sabtu, ia meluangkan waktu bersama putrinya dan mengajaknya pergi ke kantornya. Setelah melihat berkeliling, putrinya bertanya, “Ayah, inikah tempat tinggalmu?” Ia mungkin menyatakan bahwa putrinya itu penting baginya, tetapi tindakannya telah mencerminkan apa yang sesungguhnya ia hargai.

Ketika kita menerima Tuhan sebagai Juruslamat kita secara otomatis Roh kudus masuk dalam kehidupan kita. Namun kita perlu menyadari bahwa walau demikian untuk membuat Roh Kudus tetap tinggal dalam kita, kita harus hidup sebagai orang benar. Tentu ini merupakan sebuah perjuangan hidup, dimana setiap saat kita harus terus berusaha berkenan kepadaNya. Seperti Paulus, ia menyadari benar sekalipun ia telah melayani Tuhan dengan memberikan seluruh hidupnya hanya untuk menyampaikan injil Kerajaan Sorga bagi banyak orang, itu belum menjadi jaminan ia akan bisa diterima oleh Tuhan di dalam KerajaanNya, karena ia tahu bahwa pada akhirnya setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Allah. (I Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.)

Walaupun kita sudah dibenarkan, kita tidak boleh hidup sesuka hati dalam menikmati hidup di dunia ini dengan segala kesenangannya. Hidup kita merupakan bait Allah yang patut kita hargai. Tindakan kita dalam kehidupan kita akan mencerminkan siapa yang kita hargai, Keinginan Tuhan atau keinginan kita semata?  Untuk hidup berkenan kepada Allah, salah satu kuncinya adalah “ketaatan” pada perintah Tuhan. Dalam hubungan kita dengan Kristus, Dia meminta ketaatan kita, bukan perasaan nyaman atau pernyataan percaya. Dia bertanya kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Tuhan bekerja dengan memanifestasikan pekerjaannya dalam kehidupan kita. Inilah kenapa penting bagi kita hidup berkenan sehingga Tuhan bisa benar-benar menjadikan kita alat perpanjangan tanganNya. Dan dengan demikian kita adalah real God’s temple.

Rabu, 03 Februari 2016

ANAK MUDA DENGAN VISI YANG BENAR



ANAK MUDA DENGAN VISI YANG BENAR

Banyak orang didalam alkitab memberi tanda pada sejarah pada usia yang masih sangat muda seperti :
Yusuf masih sangat muda ketika mendapat visi dari Tuhan yang akhirnya membawanya menjadi Perdana Menteri di Mesir untuk mengatasi kelaparan,
Samuel dipanggil menjadi Nabi Tuhan,
Daud diurapi menjadi raja Israel yang berkenan
Yeremia yang awalnya juru minum raja arthahsasta diangkat Tuhan menjadi Bupati untuk melindungi umat Allah pada saat itu
Bahkan pemimpin2 gereja seperti Marthin Luther, John Wesley, John Calvin, Charles, Billy Graham juga dipanggil Tuhan untuk melakukan visi Tuhan pada usia mereka yang masih amat belia.
Oleh karena itu, kita sebagai anak muda ditempat ini saya sangat antusias untuk mengajak kita semua untuk punya visi yang benar dalam kehidupan kita sejak masa muda kita. Kenapa saya begitu tertarik dengan seorang anak muda dengan visi?
Visi itu membutuhkan yang namanya
·         Semangat
·         Kestabilan
·         Kekuatan
·         Ketahanan
·         Pandangan kedepan
·         Keintiman dengan Tuhan
Nah semua ini ada pada anak muda, bahkan dapat dikatakan dosisnya masih sangat tinggi.
Anak muda adalah orang yang sangat bersemangat, terus mencoba masih berapi-api, walaupun mungkin cenderung tidak stabil tetapi anak muda punya kekuatan yang besar/sangat produktf sehingga kalo jatuh mereka cenderung mencoba lagi karena ketahanan anak muda itu masih oke. Apalagi pandangan kedepan, generasi y benar-benar generasi yang sangat berpandangan kedepan karena anak muda cenderung suka berimajinasi. Dan banyak orang yang Tuhan menangkan pada masa muda mereka. Bahkan dalam keluarga saya sendiri orang yang pertama kali mengenal Tuhan adalah saya. Tuhan pakai saya untuk bisa punya hati menangkan keluarga saya (generasi 1 tingkat diatas saya) maka dari itu saya mau katakan kita sebagai anak muda penting sekali dari masa muda kita membentuk visi yang benar dalam hidup kita.
Nah tapi sebagai anak muda terkadang kita terlalu bersemangat sampai kita lupa kalo visi itu punya 3 unsur yang harus berjalan harmonis :
  
1. Tuhan        : yaitu kehendakNya Tuhan 
2. Diri kita     : Talenta dan kapasitas yang Tuhan berikan kepada kita. 
3. Lingkungan : kebutuhan zaman/ generasi yang Tuhan tunjukkan

Jadi jangan sampai visi jadi ambisi kita karna kalo ambisi kita cenderung ‘kepala batu’ yang berfokus pada diri kita (kehebatan kita) sementara seperti yang dikatakan visi berfokus pada kerinduan Tuhan melalui saya untuk menggenapi pekerjaan Tuhan didunia ini.

Ada hal menarik yang saya temukan mengenai pengertian seorang visioner dalam perjanjian baru dan perjanjian lama.

Dalam perjanjian lama visioner dlm bahasa ‘Ibrani’ berarti ‘nagid’ yaitu pemerintah/penguasa/pemimpin. Seperti Nehemia.  Berarti dengan kata lain saya katakan kalau anda seorang yang visioner dalam kuliah saudara berarti saudara sedang memimpin kuliah saudara, begitu juga kehidupan, selgrup, organisasi, pelayanan, bisnis.

Dalam perjanjian baru visioner dalam bahasa Yunani berarti pemberi makan/pelayan. Contohnya seperti rasul paulus. Visioner berarti orang dimana dia punya visi untuk melayani diarea dimana visi itu ditetapkan untuk kita.

Misalnya saudara punya visi untuk “suatu saat aku akan membangun organisasi dan yayasan dimana anak-anak muda bisa mengembangkan belajar untuk berbisinis agar orang2 ga Cuma mengharapakan pekerjaan dari orang lain tetapi mereka harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan” berarti anda punya pelayanan dibidang bisnis, visi kedepan anda seperti apa, n apa misi yang harus anda capai untuk bisa membuka organisasi itu. Atau contohnya anda seorang visioner dalam politik, apa visi dan pelayanan anda dalam politik.

Kalo Cuma untuk sekedar mendapat pengakuan dari orang lain itu namanya ambisi tapi visi berbicara tentang dampak. Bisa aja kita sama-sama bisa menjadi kaya tapi yang satu menikmati kekayaan dan yang satu mentorin banyak orang buat menjadi kaya jg. Itu ajah udah hal yang membedakan visi dan ambisi.

Lebih daripada itu carl batates : mendeskripsikan dampak dari visi yang jelas dapat mempengaruhi pelayanan dan kehidupan seseorang. Bahkan os gunners bilang ‘visi hidup kita adalah respon terhadap panggilan Allah.

Buat saya pribadi visi adalah ketika iman dan pengharapan bertemu sehingga saya punya kuasa yang dari Allah untuk menjadi dampak buat lingkungan sekitar saya.

Iman adalah dasar dari segala pengharapan dan bukti dari segala yang tak terlihat. Begitu juga dengan visi . Visi sebenarnya adalah kemampuan untuk melihat apa yang Tuhan sudah sediakan dan siapkan bagi kita; melihat apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah buat kita. Tuhan mau supaya kita dapat melihat masa depan yang Ia sudah siapkan bagi kita. Itulah visi kita. Jadi kita sebenarnya tidak mencari-cari visi tapi kita cukup melihat/menggambarkan apa yang Tuhan sudah rancangkan.
Yeremia 29 : 11,  “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk punya visi yang benar :
1.       Penting sekali bagi anak-anak Tuhan untuk dapat “melihat” dan memiliki visi Tuhan dalam hidupnya, sebab ini akan menjadi “bahan” bagi Tuhan untuk bekerja di dalam dan melalui kehidupan orang itu. Tanpa visi Tuhan tidak dapat berbuat banyak. Itulah sebabnya Paulus berdoa agar orang percaya memiliki mata hati yang terang dan dapat melihat.
Efesus 1 : 18  Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
2.       Mata hati yang terang, hati yang bersih/ kerinduan itu yang membuat kita punya visi dan semakin kita melihat banyak Tuhan juga bakal kasih sesuai apa yang kita lihat. Jadi kalau kita masih menganggap diri kita biasa ajah alias kita ga bisa ngeliat visi maka yang terjadi ya hidup kita stagnan.
Kejadian 13 : 14 – 15,  “Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pandanglah sekelilingmu dan LIHATLAH dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri YANG KAULIHAT ITU AKAN KUBERIKAN KEPADAMU dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.”
Perhatikan baik-baik ayat di atas. Tuhan berkata kepada Abraham “Yang kaulihat akan Kuberikan kepadamu” !!! Jika saudara tidak mempunyai visi, atau tidak “melihat” apa yang Tuhan sudah sediakan, maka saudara tidak akan menerima apa-apa atau mencapai apa-apa karena Tuhan tidak dapat memberikannya. Kita tidak mendapat sebab kita tidak mengimaninya. Kita tidak dapat mengimani karena kita tidak “melihatnya” sehingga kita tidak memiliki apa-apa untuk diimani. Jadi Tuhan tidak dapat memberikannya, sebab semuanya jadi berdasarkan iman. “Jadilah menurut imanmu!” kata Tuhan Yesus.
3.       Itulah sebabnya Tuhan Allah berusaha membawa Abraham ke luar dari tendanya supaya ia dapat melihat visinya Tuhan bagi dia. Dan fokus kita bukan hanya pada diri kita ajah tetapi pada sekeliling kita.
Kejadian 15 : 2 – 6,  “Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
Allah mau menjadikan Abraham sebagai bapa banyak bangsa. Namun kenyataannya Abraham tidak mempunyai keturunan sampai masa tuanya sebab isterinya Sarah mandul. Melihat kenyataan ini Abraham mulai kehilangan harapan dan visinya untuk menjadi bapa banyak bangsa. Tuhan tidak dapat bekerja dengan orang yang tidak punya visi atau yang visinya mati dan harapannya hilang. Itulah sebabnya Allah berusaha membangkitkan kembali harapan Abraham dan memperbaharui atau menyegarkan kembali visinya dengan membawanya ke luar dari tendanya dan menyuruhnya memandang ke langit dan menghitung bintang-bintang di langit.
Kita kadang harus keluar dari dalam “tenda” kita, cara berpikir kita yang sempit yang selama ini kita miliki, dan mencoba untuk berpikir dengan cara yang baru dan berbeda. “Thinking out of the box.” Keluarlah dari kotak paradigma kita yang sempit dan cobalah memandang “ke atas” kepada “ketidakterbatasan” dan segala kemungkinan yang Allah dapat lakukan bagi kita, sebab Ia adalah Allah Yang Mahakuasa! Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Di dalam Allah selalu ada kemungkinan di tengah kemustahilan. Jangan batasi apalagi menyianyiakan Allah kita yang besar. 
Kiranya Allah mencelikkan mata batin kita untuk dapat melihat semua kemungkinan dan hal-hal baik dan luar biasa yang Allah telah sediakan di sorga bagi kita.
4.       Dalam visi kita ya kita butuh proses ga ada yang langsung/praktis.
Kejadian 13 : 17,  “Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”
5.       Temukan visi kita berdasarkan apa yang kita punya/ tidak ikut-ikutan tren atau keren-kerenan.
1 Samuel 10 : 7,  “Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau.”
6.       Visi bukanlah ambisi semata tetapi visi adalah passion yang fokusnya berdampak bagi kemuliaan Tuhan.
Yakobus 4 : 2b – 3, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”
 Tuhan bekerja berdasarkan visi, iman dan harapan yang kita miliki.


Setiap anak muda harus punya visi yang benar karena kita adalah generasi penerus kerajaan Allah dinyatakan di dunia ini. Hidup sembarangan bukan lagi hal yang seharusnya kita lakukan.